Friday, January 21, 2011

Es di Kutub Kontrol Kadar Merkuri di Atmosfir


Muhammad Firman | Jum'at, 21 Januari 2011, 02:25 WIB

VIVAnews - Sebuah tim yang terdiri dari peneliti asal Prancis dan Amerika Serikat baru-baru ini menemukan bahwa es di laut memegang peranan penting dalam siklus merkuri di kutub utara.

Para peneliti tersebut, antara lain dari Centre National de la Recherche Scientifique (CNRS), Institut de Recherche pour le Développement (IRD), Université Paul Sabatier dan Université de Pau, menjelaskan bahwa merkuri (Hg) merupakan satu-satunya logam berat yang ditemukan dalam bentuk gas di atmosfir. Sejak era revolusi industri, emisi anthropogenic merkuri sisa pembakaran bahan bakar fosil telah melampaui emisi merkuri alami.

Baik emisi anthropogenic dan emisi alami, terutama dari penguapan air di samudera dan gas yang dikeluarkan oleh gunung berapi, telah mencapai kawasan kutub akibat pergerakan di atmosfir.

Akibatnya, polusi atmosfir global menambah deposit merkuri di ekosistem kutub yang kemudian dilepas kembali ke atmosfir. Di atmosfir kutub utara, merkuri dioksidasi ke dalam bentuk deposit yang tersimpan di cryosphere (salju atau es). Setelah itu, ketika es mencair, bentuk teroksidasi ini kemudian di mobilisasi kembali dan ditransformasikan ulang lewat proses physicochemical dan biologis menjadi dalam bentuk racun methylmercury (CH3Hg).

Merkuri dalam bentuk beracun inilah yang dicerna oleh makhluk hidup. Ia berakumulasi melalui rantai makanan dan bisa mencapai konsentrasi satu juta kali lebih tinggi dibanding merkuri yang ada di permukaan air.

Temuan ini sendiri akan dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience.

“Dengan memblokir sinar matahari, es bisa mempengaruhi pelepasan dan transfer racun merkuri yang ada di permukaan air samudera kutub utara ke atmosfir, ” kata Jeroen Sonke, peneliti dari CNRS, seperti dikutip dari ScienceDaily, 20 Januari 2010.

Artinya, Sonke menyebutkan, iklim memegang peranan sangat penting pada siklus merkuri dan pelepasan merkuri ke atmosfir semakin banyak dengan melelehnya es di kutub utara. Dan pemanasan global akan membuat semakin banyak merkuri dilepaskan ke atmosfir.

us.wap.vivanews.com/news/read/200497-es-di-kutub-kontrol-kadar-merkuri-di-atmosfir

Thursday, January 20, 2011

Kementerian Kelautan Bentuk Tim Penyelesaian Konflik Tambak Dipasena


TEMPO Interaktif, Bandar Lampung - Kementerian Kelautan dan Perikanan menyatakan telah membentuk tim khusus untuk menyelesaikan konflik petambak plasma eks-Dipasena dengan CP Prima di Lampung.

Tim itu akan mencari data di lapangan mengenai kondisi tambak dan pelaksanaan program revitalisasi tambak tersebut. »Pekan ini tim sudah bekerja dan turun ke lokasi, ” kata Fadel Muhammad, Menteri Kelautan dan Perikanan melalui pesan pendek yang dikirim ke Tempo, Senin (10/01)

Nantinya tim itu akan mengecek kebenaran kemajuan program revitalisasi yang merupakan bagian dari pengambilalihan aset milik Syamsul Nursalim dari Perusahaan Pengelola Aset tahun 2006 lalu.

Fadel mengatakan, pihaknya juga telah melakukan komunikasi intensif dengan pemerintah daerah Kabupaten Tulangbawang dan Provinsi Lampung membahas persoalan yang tengah terjadi di lokasi tambak seluas 16 ribu hektare lebih itu. »Dalam satu minggu ini diharapkan bisa keluar keputusan, ” katanya.

Dia juga menyayangkan sikap perusahaan yang tertutup dan enggan menyelesaikan konflik petambak plasma dan perusahaan inti. Padahal, lanjut dia, tambak Dipasena merupakan aset bangsa yang bisa menggenjot produksi udang nasional. »Saya menyayangkan CP Prima tidak kooperatif. Kondisi itu menyebabkan berkurangnya produksi udang nasional, ” ujarnya.

Langkah Kementerian Kelautan dan Perikanan itu disambut positif oleh para petambak. Mereka akan membuka semua akses ke lokasi tambak agar tim khusus yang dibentuk itu bisa mendapatkan data sebenarnya di lapangan. »Itu yang kami tunggu-tunggu. Kami siap mengeluarkan pelanggaran kemitraan yang dilakukan oleh perusahaan inti, ” kata Thowilun, Wakil Ketua Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu Dipasena.

Petambak menyayangkan sikap CP Prima yang enggan melakukan pertemuan saat difasilitasi Kepolisian Daerah Lampung. Mereka beralasan organisasi petambak bukan merupakan perwakilan petambak yang diakui dalam kontrak kerja sama. »Kami adalah petambak yang merasakan langsung penderitaan dari pola kemitraan yang tidak adil, ” katanya.

Sementara itu di lokasi, ribuan istri petambak kini mulai bergabung menggelar aksi. Mereka ikut menginap di sejumlah fasilitas milik perusahaan. Aksi itu sebagai dukungan terhadap suami mereka yang telah menduduki aset perusahaan itu sejak pekan lalu.